MUSIRAWAS- Rasa suka cita dan senang masyarakat Desa Leban Jaya Kecamatan Tuah Negeri Kabupaten Musi Rawas berubah menjadi kecewa dan marah.
Pasalnya , proyek peningkatan kapasitas jalan penghubung antara Desa Leban Jaya Kecamatan Tuah Negeri ke Desa Sadarkarya Kecamatan Purwodadi Kabupaten Musi Rawas yang telah lama dinanti masyarakat, diduga dikerjakan asal -asalan, serta diduga dimanipulasi oleh pihak rekanan.

Proyek senilai Rp 3 milyar menggunakan APBD Musi Rawas tahun 2025 dikerjakan CV Cipta Mulia Adiprima itu diprotes warga, lantaran cor LC yang seharusnya seluruh cor menggunakan besi, tapi oleh pihak rekanan ada yang tidak digunakan.
Buntutnya, warga yang mengetahui ada cor yang tidak menggunakan besi tersebut minta dibongkar,dan meminta Bupati Musi Rawas melalui Dinas PUBM menceklist perusahaan tersebut masuk dalam daftar hitam,karena melaksanakan proyek tidak sesuai ketentuan, alias diduga memanipulasi pemasangan bahan proyek.
Selain itu, warga juga meminta kepada Pemkab Musi Rawas tidak melakukan pembayaran 100 persen pada kegiatan tersebut, sebelum kontraktor pelaksana membongkar dan melakukan cor ulang sesuai ketentuan dan RAB.

” Setahu Saya titik cor yang tidak menggunakan besi itu di sini, tempat lain juga ada, tapi yang saya lihat dengan mata kepala saya sendiri disini, lebih kurang 10 meter,” kata DH warga Desa Leban Jaya, Sabtu ( 15/11/2025).
Untuk tempat lain kata dia, besinya dipasang jarang – jarang atau tidak rapat, dan ada juga yang tidak terpasang sama sekali.
“Kami tidak terima proyek ini,dan minta dibongkar di sejumlah titik badan jalan yang di cor tidak menggunakan besi tersebut, dan minta di cor ulang menggunakan besi sesuai RAB,” katanya lagi.

Dia juga mengatakan awalnya masyarakat sangat senang terhadap pembangunan infrastruktur jalan ini,karena puluhan tahun menanti,baru kali ini dilakukan peningkatan cor beton.
“Tapi jika pekerjaannya seperti ini,kami tidak terima. Ini sama saja membodohi masyarakat,,” katanya.
Dia juga siap menunjukkan bagian mana saja yang tidak dipasang besi tersebut, saat pemeriksaan 100 persen nanti.
“Saat pemeriksaan 100 persen nanti, kasih tahu saja,akan saya tunjukkan bagian yang tidak dipasang besi,yang saya lihat dengan mata saya sendiri,” katanya.
Pantauan wartawan di lapangan, selain menurut informasi warga pengerjaan proyek tersebut terkesan asal dengan tidak memasang besi, pemasangan plastik juga tidak dipasang full.Selain itu, pengecoran tidak menggunakan lapisan koral terlebih dahulu mengandalkan batu lama dan bekas pecahan aspal sebelumnya.

Pemasangan plastik hanya dilakukan di sisi kiri dan kanan badan jalan saja, sementara di tengah badan jalannya bolong alias tidak terpasang plastik.
Salah seorang pekerja ditemui dilapangan mengatakan, tidak terpasangnya besi itu dikarenakan pada saat mobil molen datang, pekerja belum sempat memasang besi dan langsung dilakukan pengecoran.
“Kemaren itu mobil rame nian yang masuk pak,ada 5 mobel molen, sementara besinya belum terpasang,” kata Apis yang mengaku bukan pengawas,tapi hanya mencatat kebutuhan bahan saja.
“Kalau pengawasnya Ateng pak,bukan saya,” katanya.
Sebelumnya,warga sangat bersyukur atas peningkatan kapasitas jalan penghubung antar kecamatan ini. Warga menyambut antusias karena memberikan dampak positif bagi warga dan pengguna jalan.
Jalan yang sebelumnya hanya tanah dilapisi batu, menimbulkan debu saat musim panas dan licin saat musim hujan, kini tampak mulus dan nyaman untuk dilintasi kendaraan.

Namun setelah mengetahui pengerjaan jalan ini asal asalan, antusias warga menjadi sangat kecewa.
Dugaan manipulasi bahan proyek ini harus diusut, pihak APH harus tangan untuk memeriksa pekerjaan proyek tersebut sesuai ketentuan.Jangan sampai uang miliaran untuk membangun jalan tersebut, tidak sampai peruntukannya untuk kesejahteraan masyarakat alias jadi bancakan saja.(Tim)






