MUSIRAWAS – Senyum gembira terukir dari seorang ibu rumah tangga berusia 39 tahun, sembari menyalahkan api kompor gas dan memulai aktivitas pagi menyiapkan makanan untuk sarapan keluarganya, Sabtu (23/5/2026.
Wanita bernama Teti Marlina ini adalah warga Desa Leban Jaya, Kecamatan Tuah Negeri Kabupaten Musi Rawas.
Dia merupakan salah satu dari 9.999 rumah tangga di Kabupaten Musi Rawas yang telah menikmati jaringan gas bumi dan tersalur langsung ke dapur rumah warga sejak tahun 2018 lalu.
Gas bumi yang keluar dari sumur PT Pertamina ini, bukan saja menciptakan suasana gembira bagi ibu rumah tangga dalam pemenuhan urusan dapur,tapi juga memberikan keuntungan lebih terutama masalah finansial, kenyamanan saat memasak ,serta bebas dari kelangkaan gas.
Dikatakan wanita yang berprofesi sebagai bidan desa ini, selain dikenal lebih bersih, salah satu efek berganda dari hulu migas ini memberikan kenyamanan pada pemenuhan kebutuhan gas, serta jauh lebih hemat dibandingkan penggunaan LPG subsidi tabung 3 K. Ketersediaan pasokan gas pun terjamin 24 jam secara merata.
” Kalau soal stok gas,Kami tidak kuatir lagi karena sudah terpasang jargas yang langsung dari sumur gas,” kata ibu yang memiliki Tiga anak ini.
Selain memasak lebih cepat tutur Dia, gas bumi lebih irit dan stoknya tidak pernah putus.
“Sebelumnya Kami pakai gas 3 kg.Meskipun sudah subsidi dari pemerintah, tapi masih boros bila dibandingkan jargas bumi. Untuk mendapatkan gas subsidi tabung 3K juga terkadang sangat sulit,” katanya.
Jargas Musi Rawas dimulai tahun 2018
Pemanfaatan jaringan distribusi gas bumi untuk rumah tangga (jargas) di Kabupaten Musi Rawas ini dimulai tahun 2018.Sebanyak 5.182 sambungan rumah (SR) terpasang di Delapan desa dalam Kecamatan Sukakarya, dan Tiga desa di Kecamatan Tuah Negeri yang dibangun Pemerintah melalui dana APBN tahun 2018.
Kemudian pada tahun 2020, kembali dilakukan pemasangan di Tujuh desa dalam Kecamatan Tuah Negeri sebanyak 4 809 SR.
Pengoperasian jargas di Musi Rawas ini merupakan efek berganda yang memanfaatkan sumber gas berasal dari sumur PT Pertamina EP Asset 2 Pendopo Field, dengan volume 0,2 mmscfd.
Seluruh sambungan rumah tangga ini diaktifkan melalui proses konversi kompor gas dilakukan oleh operator dari PT Pertagas Niaga.
Kordinator lapangan Jargas PT Pertagas Niaga Musi Rawas,Ari Sobaryadi, Sabtu (23/5/2026) membenarkan saat ini ada 9.999 rumah tangga di Musi Rawas yang telah menikmati Jargas bumi tersebut.
“Iya.saat ini ada 9.999 rumah tangga yang terpasang jargas bumi, tersebar di 17 desa dalam Kecamatan Sukakarya dan Kecamatan Tuah Negeri,” jelasnya.
Jargas bumi Musi Rawas multiplier effect hulu migas
Jargas bumi yang terpasang di 9.999 di Kabupaten Musi Rawas ini merupakan salah satu dampak lanjutan dari kegiatan eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi oleh PT Pertamina EP.
Efek berganda dari hulu migas ini secara langsung dirasakan masyarakat melalui pemanfaatan Jaringan Gas Alam untuk rumah tangga.
Beberapa efek berganda hulu migas yang dinikmati masyarakat dari Jargas ini sangat menekan pengeluaran bulanan masyarakat ,dibandingkan selama ini menggunakan gas non subsidi maupun subsidi sekalipun.
Berdasarkan tarif resmi berlaku, pelanggan hanya perlu membayar sekitar Rp4.250 hingga Rp6.000 per meter kubik, sehingga rata-rata tagihan bulanan berkisar Rp50.000 per bulan tergantung pemakaian.
Selain berimbas dengan masyarakat, juga dapat berimbas dengan efisiensi Subsidi dan Anggaran Negara.
Dengan beralihnya masyarakat ke jargas, beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk subsidi LPG dapat ditekan secara signifikan. Dana subsidi tersebut dapat dialihkan ke sektor prioritas lain, seperti pembangunan infrastruktur publik misalnya.
Kemudian Jargas yang langsung melalui pipa menuju dapur rumah warga ini ,dapat membebaskan masyarakat dari risiko kelangkaan LPG di pasaran, kerumitan mengganti tabung gas, dan meningkatkan aspek keamanan karena tekanan gas bumi yang lebih rendah dan terkontrol.
Selain itu, aktivitas operasional di wilayah kerja (WK) hulu migas menumbuhkan perekonomian regional melalui penciptaan lapangan kerja, belanja barang dan jasa lokal, serta pengembangan program tanggung jawab sosial (Corporate Social Responsibility atau CSR).
Gas alam ini juga merupakan bahan bakar fosil yang jauh lebih bersih dibandingkan minyak bumi maupun batu bara. Pembakarannya menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah, sehingga masyarakat juga turut serta dalam program transisi energi yang ramah lingkungan. (Firmansyah)






